47 Rumah di Tasikmalaya Terancam Akibat Gerakan Tanah
Sumber Foto: ANTARA News
Lifestyle

47 Rumah di Tasikmalaya Terancam Akibat Gerakan Tanah

waktu baca 2 menit

Jakarta (ANTARA) - Puluhan rumah warga terancam rusak akibat fenomena gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagaimana dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa gerakan tanah dilaporkan terjadi di Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Tasikmalaya yang menyebabkan pergeseran struktur tanah dan berdampak pada pemukiman warga.

Baca juga: Tanah di Tasikmalaya bergerak, rumah warga miring, kaca pecah

Peristiwa tersebut pertama kali terjadi, Senin (16/2) sekitar pukul 03.00 WIB setelah wilayah itu diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BNPB mencatat sudah ada lima rumah yang rusak dengan klasifikasi dua unit rumah rusak berat dan tiga unit lainnya rusak ringan.

Adapun proses evakuasi sekaligus pendataan jumlah warga yang terdampak masih berlangsung, setidaknya sampai dengan Rabu (181/2).

Berdasarkan hasil peninjauan lapangan yang diterima BNPB, ditemukan sedikitnya ada 47 unit rumah warga yang berada dalam kondisi terancam apabila pergerakan tanah kembali terjadi.

Baca juga: Longsor Tasikmalaya, seorang anak tewas tertimbun dan enam luka-luka

Baca juga: Kemensos bantu korban bencana pergerakan tanah di Tasikmalaya

Merespons kerentanan tersebut, Abdul memastikan bahwa tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya melakukan pendampingan melekat untuk memastikan keselamatan dan menjamin kebutuhan dasar warga terdampak.

"47 kepala keluarga yang berada dalam zona rawan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gerakan tanah susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi," katanya.

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo

Editor: Endang Sukarelawati

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.